POTENSI HIJAUAN PENUTUP TANAH DI LAHAN PERKEBUNAN SEBAGAI PAKAN TERNAK (Asystasia Gangetica)

Gambar: Asystasia gangetica Sumber: Dokumentasi Pribadi

Asystasia gangetica yang sering disebut sebagai bayaman, ara sungsang, rumput Israel, china violet, merupakan hijauan jenis gulma yang banyak tumbuh dibawah naungan lahan pertanian dan perkebunan terutama kelapa sawit. Kita tahu bahwa perkebunan kelapa sawit merupakan komoditi unggulan yang banyak dikembangkan terutama di Kepulauan Bangka Belitung. Keberadaan gulma dilahan perkebunan sering kali mengganggu karena dapat menurunkan efisiensi penggunaan pupuk serta menurunnya produksi tanaman karena persaingan dalam memperoleh unsur hara, air, cahaya, dan ruang. Namun keberadaan gulma A. gangetica dapat dijadikan sebagai potensi hijauan pakan ternak, Pada kondisi naungan seperti perkebunan kelapa sawit produksi A. gangetica memiliki pertumbuhan yang cepat serta biomasa yang tinggi.

  1. gangetica dapat diambil dengan pemanenan dilahan-lahan perkebunan atau dilakukan sistem integrasi perkebunan dan ternak sapi. Integrasi perkebunan dengan ternak sapi akan menghasilkan banyak keuntungan seperti perbaikan struktur tanah, penyediaan pupuk organik, menekan biaya produksi, dan memberantas gulma. Integrasi ini tentunya akan saling memberikan keuntungan baik sektor perkebunan, peternak, maupun ternak. Menurut Kumalasari et al (2020), Asystasia gangetica memiliki kandungan nutrient yang baik. Hal ini dilihat dari kadar protein mencapai 10,90-35,17%; lemak kasar 0,78-4,17%; serat kasar10,22%-48,97%. Perbedaan kandungan nutrient terutama protein pada A. gangetica tergantung pada bagian tumbuhan yang dimanfaatkan. Bagian daun A. gangetica memiliki kandungan nutrient yang lebih tinggi dibandingkan bagian batang, hal ini dikarenakan daun memiliki zat hijau daun (klorofil) yang memiliki kandungan utama nitrogen (Silungwe 2011). Keragaman antara proporsi daun dan batang salah satunya dipengaruhi oleh naungan. A. gangetica yang mendapatkan sedikit naungan (30%) memiliki panjang batang, jumlah cabang, dan daun yang lebih banyak dibandingkan dengan naungan gelap, namun naungan yang gelap akan menghasilkan panjang, lebar, dan luas daun yang lebih tinggi (Kumalasari et al. 2020).
  2. gangetica sangat disukai oleh ternak sehingga memiliki palatabilitas yang tinggi. Kandungan serat kasar yang rendah terutama pada bagian daun A. gangetica membuat hijauan ini memiliki daya cerna yang tinggi. Pemberian A. gangetica jangan diberikan dalam kondisi segar kepada ternak karena dapat menyebabkan kembung. Penyakit kembung pada ruminansia salah satunya disebabkan karena pemberian hijauan yang memiliki kadar air yang tinggi atau terlalu banyak diberikan daun muda. Dalam mencegah kembung pemanenan A. gangetica pagi hari dapat diberikan sore hari kepada ternak dan pemanenan hijauan sore hari diberikan ke esok harinya pada pagi hari. Pada saat ternak diumbar (integrasi) dilahan perkebunan sebaiknya dilakukan diatas jam 8 untuk mencegah infeksi cacing.

 

Penulis: Audina, S.Pt

Sumber :

Kumalasari NR, Putra RI, Abdullah L.2020. Evaluasi morfologi, produksi dan kualitas tumbuhan Asytasia gangetica (L) T Anderson pada lingkungan yang berbeda. JINTP. 18(40): 49-53.

Silungwe D. 2011. Evaluation of forage yield and quality of shorgum, sudangrass, and pearl         millet cultivars in manawatu. [Tesis]. Palmerston North (NZ): Massey University